Senin, 03 Desember 2012

Tips Pose Foto Yang Keren

Saat foto tentunya anda perlu berpose untuk dapatkan gambar uang bagus dan menarik apalagi saat anda foto di studio foto pastinya pose anda harus semenarik mungkin agar endapatkan foto yang bagus dan berfariasi, berikut ini ada beberapa tips untuk anda cara berpose terbaik seolah menggenggam matahari:

1. Cari program2 komputer buat edit foto kamu sama si Matahari, misalnya pake adobe sotoshop, corel draw (gambar corel), adobe illustrator (illustrasi adobe) buat gabungin tuh foto.
2. Jangan sekali-kali ngedit gambar pake paint, office picture manager dsb, soale emang bukan fungsinya buat nggabungin foto tuh.
3. Lebih parah mo ngedit foto kamu malah pake PDF, Word, Excell.. yang bener aje, boleh sih gaptek, tapi ya jangan stadium akut lah.
4. Klo emang lagi ngebet banget, bisa juga tuh ambil aja gambar yang udah jadi terus diganti wajahnya ma fotomu, tapi jangan kaget klo sama aja. Soale yang namanya foto matahari ya siluet (klo g tahu siluet, cari aja di wikipedia ya om, tante). jadi g ngaruh mo dipasang foto kamu or *ony*t, sama aja maybe
5. Jeprat-jepret sendiri aja pake kameranya siapapun, asala jangan nyuri aja ya, klo ketauan satpol PP bisa berabe. Tpi jangan siang bolong, yang bener aja foto2 matahari siang-siang, bukan apa-apa seh, cuma panas aja, ntar malem aja foto mataharinya biar dingin dulu mataharinya, hehe..
6. Klo g bisa jeprat-jepret sendiri ya suruh jepretin orang laen lah, gitu aja koq repot.
7. Tips lanjutnya, jangan moto ma om matahari malam hari, soalnya jadinya di foto mesti bulan tuh.
8. Usahakan cari tempat-tempat yang tinggi biar bagus, misala tower BTS, penangkal petir, Monas dsb.
9. Ato nyari tempat yang luas pemandangannya, biar bisa kelihatan tuh mas mataharinya, kayak lautan lepas, gunung lepas, bukit lepas, sungai lepas dsb, poke yang lepas-lepas deh.
10. Klo sudah nemu kamera, yang moto n tempat yang pas, jangan lupa nyari angle yang tepat. (btw angle tuh bacanya enggel bukan angel, jo lali nggih)

Itulah tipsnya semoga bermanfaat untuk anda, selamat mencoba.

5 Dimensi Fotografi Jurnalistik, KEREN!!!

Ghiboo.com - Menjeprat sana menjepret sini bisa bikin ketagihan. Yap kegiatan fotografi bagi sebagian orang dapat menjadi candu.

Ada yang sekadar hobi ada juga yang menjadikan ini sebagai profesi. Terutama bagi Anda yang bekerja sebagai fotografer jurnalistik, setiap jepretan diusahakan menjadi berguna.

Coba simak 5 dimensi fotografi jurnalistik dari Enny Nuraheni (Chief Photographer Reuters Indonesia) di bawah ini. Siapa tahu dapat menambah ilmu dan inspirasi Anda dalam bertugas.

1. Fotografer jurnalistik tidak boleh meninggalkan kameranya ke mana pun pergi. Momen berharga sekecil apapun wajib ditangkap. Jika bukan liputan dadakan, usahakan punya gambaran tentang angle dan frame yang akan diambil, sehingga bisa menyiapkan caption (teks keterangan foto) dari rumah. Ini dibutuhkan agar bisa cepat mengirim berita supaya tak kalah dengan kantor berita lain.

2. Setiap fotografer rentan terkena cedera tulang belakang atau tulang punggung, akibat terlalu sering membawa beban berat dan selama bertahun-tahun kurang memerhatikan kondisi. Pencegahan bisa dilakukan dengan olahraga, terutama berenang. Karena dengan berenang seluruh anggota badan bergerak sekaligus bisa membuat relaks.

3. Tekanan mental kerap terjadi setelah liputan, khususnya di daerah bencana dan konflik. Apalagi wanita, pasti lebih cepat tersentuh hatinya bila melihat hal-hal yang miris. Kesiapan mental wajib dipersiapkan. Dibutuhkan waktu untuk menyesuaikan kondisi mental agar lebih tenang lagi seperti sedia kala. Salah satu caranya dengan mengisi rohani atau dengan berjalan-jalan menenangkan diri ke tempat yang disenangi.

4. Menguasai setting kamera dan jangan hanya berani bermain di satu setting-an saja. Kini, fotografer sudah dimanjakan dengan teknologi yang serba ringkas, namun tetap harus belajar manual dan mengerti jenis dan sifat kamera. Fotografer jurnalistik juga tidak hanya berperan sebagai fotografer saja, tapi juga sekaligus berpikir seperti reporter. Pandai-pandai membaca draft story sehingga bisa menciptakan foto dari informasi yang ada.

5. Berkomitmen Pada Profesi Menjadi Harga Mati, terlebih di kantor berita asing. Jika mental tak mampu, pasti akan drop dan akhirnya meninggalkan profesi. Memang ada risiko untuk bisa berbagi dengan keluarga. Masing-masing ada pengorbanannya. Dukungan keluarga mutlak harus ada karena dedikasi penuh atas pencarian informasi tak kenal waktu dan tempat.



http://id.berita.yahoo.com/5-dimensi-fotografi-jurnalistik-023000955.html